Oleh: artacuakep | Oktober 10, 2013

1383343_389244271203489_1910598121_n.jpg

Oleh: artacuakep | Juli 7, 2009

ASAL MUASAL JAGAT RAYA

Jawaban model berseloroh seperti ini mengingatkan kita pada jawaban Santo Agustinus ketika ditanyakan kepadanya tentang apa yang dilakukan Tuhan sebelum peristiwa Big Bang itu terjadi. Jawab Agustinus: Tuhan sibuk membangun neraka buat orang-orang yang melontarkan pertanyaan seperti itu
http://testi.iluvislam.com/Meneruskan tradisi rutin bulanan selama ini, Jaringan Islam Liberal (JIL) pada tanggal 27 April 2009 menyelenggarakan sebuah diskusi dengan mengangkat tema “Agama, Sains, dan Teori Evolusi”. Diskusi yang berlangsung di Teater Utan Kayu, 68 H Jakarta, malam itu menghadirkan dua narasumber: Karlina L. Supelli dan Mulyadhi Kartanegara.

Secara tidak langsung tema ini diangkat dalam rangka memperingati 200 tahun kelahiran Charles Darwin, sang penggagas teori evolusi. Agak terlambat memang, sebab tarikh kelahiran Darwin tercatat pada bulan Desember, tepatnya pada tanggal 12 Desember 1809. Sedang bulan April sendiri tercatat sebagai bulan wafat Darwin. Darwin wafat pada 19 April 1882 di usia 72 tahun. Tetapi pokok soal yang didiskusikan pada malam itu sungguh bersifat lifetime, dengan demikian menjadi bersifat relatif terhadap waktu.

Kalau kita baca buku Stephen Hawking, Riwayat Sang Kala: Dari Dentuman Besar hingga Lubang Hitam ([A Brief History of Time] Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1995), juga buku Charles Darwin, Asal Usul Spesies ([The Origin of Species by Means of Natural Selection or the Preservation of Favoured Races in the Struggle for Life] jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2007), kesadaran kita akan segera tergiring pada sebuah fakta mendasar bahwa sistem besar yang bekerja di jagat raya ini, baik jagat makro maupun mikro, tak lain adalah evolusi. Dari sejak berdirinya jagat raya hingga pembentukan “interior-interiornya”, sistem besar yang bekerja adalah evolusi.

Dalam buku A Brief History of Time, Hawking menjelaskan bahwa jagat raya ini bermula dari sebuah singularitas pada sekitar 10 milyar tahun lampau. Dari singularitas inilah terjadi Big Bang, sebuah dentuman besar. Setelah terjadi ledakan besar, jagat raya kemudian terus-menerus mengalami proses pemuaian. Dalam perjalanan pemuaian ini, temperatur jagat raya lambat laun mengalami penurunan. Pemuaian terus-menerus yang sekaligus dibarengi oleh penurunan temperatur, kodrat jagat raya kemudian berakhir pada sebuah singularitas, sebagaimana ia muncul awal mula. Pada singularitas kali ini, jagat raya akan mengalami Kerkahan Besar atau Big Crunch. Perkiraan astronomis, dari waktu sekarang sampai terjadinya peristiwa Kerkahan Besar nanti, juga dibutuhkan waktu 10 milyar tahun. Kerkahan besar inilah yang dalam ramalan para ahli astronomi disebut sebagai akhir dari riwayat sang kala atau berakhirnya sang waktu. Dalam bahasa agama peristiwa Kerkahan Besar ini disebut sebagai Hari Akhir atau Kiamat Semesta.

Pada level jagat mikro, kita juga melihat hal yang sama. Sebagaimana halnya jagat makro bermula dari singularitas, jagat mikro juga bermula dari sebuah “singularitas”, yakni amoeba, makhluk bersel satu serba bisa di mana semua tugas dapat dilakukan olehnya tanpa mengalami tumpang tindih. Yang agak berbeda mungkin adalah apakah makhluk-makhluk yang beragam ini akan berakhir pada sebuah “singularitas” juga ataukah tidak, sebagaimana berakhirnya jagat makro.

Bermula pada sebuah kubangan kaldu purba yang pas komposisi adonannya, makhluk bersel satu tersebut kemudian mengalami proses spesiasi atau percabangan spesies baru, dari yang simpel sampai ke bentuk yang kompleks. Richard Dawkins, dalam bukunya, Sungai dari Firdaus: Suatu Pandangan Darwinian tentang Kehidupan (Jakarta: KPG, 2005, hal. 8), menyebut proses spesiasi itu sebagai “a long goodbye”, sebuah ucapan selamat tinggal yang sangat jauh oleh spesies baru terhadap spesies lama.

Mulyadhi malam itu menjelaskan peristiwa-peristiwa jagat raya ini dalam prespektif Rumian (Jalaluddin Rumi). Dalam perspektif Rumian, sistem besar yang bekerja di dalam alam raya bukanlah pertama-tama adalah evolusi, tetapi Energi Cinta. Cinta inilah yang menjelaskan munculnya jagat raya, modus berputar jagat raya, sampai terbentuknya makhluk-makhluk di dalamnya. Persis sebagaimana bunyi sebuah hadis qudsi yang sangat disukai oleh para ahli sufi dalam menjelaskan Tuhan dan asal mula alam raya: kuntu kanzan makhfiyyan, fa ahbabtu an u’raf, fa khalaqtu khalqan (Pada mulanya, Aku adalah Khazanah Kesunyian. Tapi tak elok rasanya Aku terjebak lama dalam kesunyian, maka Ku ciptakanlah makhluk-makhluk itu).

Energi cinta itulah, dalam perspektif Rumian, yang menjelaskan kenapa Bumi setia berputar mengelilingi Matahari. Kalau saja bukan karena Cinta itu, niscaya Bumi sudah menelusuri jalannya sendiri, bergerak menjauh dari Matahari. Walhasil, benda-benda langit akan jatuh pada situasi chaos. Dengan perspektif Rumian ini, Mulyadhi seolah-olah ingin mengatakan bahwa sistem besar yang pertama-tama bekerja di dalam jagat raya ini adalah Cinta. Cinta sebagai first-line, evolusi sebagai second-line.

Menanggapi presentasi Mulyadhi yang didominasi penjelasan dengan argumentasi Cinta, Karlina melontarkan sebuah metafor yang cerdas dan sungguh sangat menohok tipikal para ahli sains: Cinta telah terkubur oleh gravitasi. Dalam bahasa yang agak vulgar mungkin metafor itu hendak mengatakan: go to the hell with your Love! Dengan metafor seperti ini, Karlina seolah-olah ingin mengkritik cara bereaksi kalangan agamawan yang seringkali menyeret hal-hal empirik ke wilayah non-empirik untuk mencarikan penjelasannya.

Jawaban model berseloroh seperti ini mengingatkan kita pada jawaban Santo Agustinus ketika ditanyakan kepadanya tentang apa yang dilakukan Tuhan sebelum peristiwa Big Bang itu terjadi. Jawab Agustinus: Tuhan sibuk membangun neraka buat orang-orang yang melontarkan pertanyaan seperti itu (Stephen Hawking, Riwayat Sang Kala. Jakarta: Pustaka utama Grafiti, 1995, hal. 9).

Dengan metafor Cinta telah terkubur oleh gravitasi, Karlina ingin mengatakan bahwa cara yang paling masuk akal untuk mengurai ruwetnya sejarah alam semesta ini, tak lain adalah teori evolusi. Kekurang-puasan pihak agamawan terhadap penjelasan dengan memakai argumentasi evolusi lebih disebabkan pemahaman mereka tentang teori evolusi seolah-olah teori ini menampik adanya Supreme Being atau Tuhan di balik peristiwa alam raya ini. Menanggapi tuduhan seperti itu, Karlina menjawab: Tuhan adalah ontologi yang dikleim oleh sekian banyak episteme.

Menurut Karlina, teori evolusi sama sekali tidak berkaitan dengan wilayah pertanyaan ambang batas seperti itu. Dalam wawancaranya di Harian Kompas (Rubrik Persona, 5 April 2009), Jorga Ibrahim –guru besar Astronomi ITB, Bandung– menyebut pertanyaan demikian sebagai pertanyaan khas ilmuwan wilayah perbatasan. Dan sains sama sekali tidak berurusan dengan pertanyaan-pertanyaan demikian, pertanyaan tentang dari dan kemana alam semesta beserta seluruh isinya bergerak (sangkan paraning dumadi). Karlina sendiri saat ditodong dengan pertanyaan seperti ini, ia mengatakan demikian: sejauh menyangkut wilayah empirik, kita bisa bersandar pada penjelasan sains. Di luar itu, kita tak bisa lain kecuali terantuk pada sebuah metafor.

Lebih jauh, menurut Karlina, teori evolusi harus dipahami bahwa dengan teori itu, para ahli sains meyakini adanya sejarah panjang yang melatar belakangi terbentuknya alam semesta dengan segala makhluk yang ada di dalamnya. Dengan teori evolusi ini, mereka ingin mengatakan bahwa alam semesta ini bukanlah peristiwa ahistoris, alam semesta punya sejarah panjang yang dilaluinya setapak demi setapak. Inilah yang sama sekali bertolak belakang dengan keyakinan dalam agama bahwa jagat raya beserta seluruh isinya muncul dengan sekonyong-konyong begitu saja persis ketika Tuhan bersabda: Kun Fa Yakun (Ada lah, maka segala sesuatu sekonyong-konyong ada). Munculnya alam semesta secara sekonyong-konyong inilah yang ditolak oleh para ahli sains.

Oleh: artacuakep | Juli 7, 2009

MEREBUT MAKNA PANCASILA

Satu-satunya jaminan keberadaan kelompok-kelompok ini adalah Pancasila—walau rezim Soeharto telah menodainya. Karena pada rumusan Pancasila yang menghormati kebhinekaan, tetapi sekaligus menjaga persatuan, setiap kelompok diterima dan dihargai, tenggang rasa dicari, dan sikap moderasi diunggulkan. Soalnya adalah mencari celah yang melalui mana tuntutan mendasar itu dapat timbul ke permukaan.

SETIAP kali kata “Pancasila” terdengar, bulu kuduk saya seakan berdiri. Kata itu dulu pernah menjadi mantra ampuh di tangan rezim otoriter Soeharto, sebagai senjata ideologis yang dapat membungkam siapa saja yang mau berpikir kritis, sekaligus membuat setiap obrolan tentang Pancasila jadi memuakkan.

Tetapi di Padepokan Wulan Tumanggal, di kaki Gunung Slamet, Pancasila menjadi cerita lain yang memesona. Bukan sekadar repetisi bebal para pejabat, tetapi suatu keyakinan yang berurat berakar, dan ditempa oleh pengalaman peminggiran yang pahit. Pancasila lalu menjadi semacam pertaruhan hidup mati, sekaligus perjuangan untuk merebut hak-hak sipil kelompok-kelompok penghayat kepercayaan yang selama ini dinafikan.

Akhir bulan lalu, saya diundang ke padepokan itu. Mereka mengajak saya untuk merayakan “hari Pancasila”—sebuah istilah yang, mulanya, membuat saya merinding, tapi sekaligus membangkitkan minat. Selama ini Pancasila sudah dinafikan, dianggap barang tua warisan rezim otoriter yang harus dimuseumkan. Tetapi pengalaman gejolak sosial pasca Mei 1998, membuat kata sakti yang dirumuskan Soekarno 64 tahun lalu itu kembali menemukan gregetnya. Dan kini, kata itu kembali bergema di kaki Gunung Slamet.

Tiga hal dengan segera mengejutkan saya. Pertama, soal istilah: “hari Pancasila”. Berulang kali mereka menegaskan, bahwa yang diperingati bukanlah “hari lahir Pancasila”, tetapi “hari Pancasila”. Sebab, seperti ditegaskan Esno Kurnodho, Ketua Umum Himpunan Penghayat Kepercayaan kepada Tuhan Yang Mahaesa (HPK), yang bagi masyarakat di sana lebih dikenal sebagai Rama Guru Bapak Tegal, jika memang ada hari lahir, maka kemungkinan ada juga hari kematiannya! Lagi pula, pidato Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945 lalu bukanlah peristiwa yang melahirkan Pancasila, tetapi “merumuskan” kelima sila yang, kata Soekarno sendiri, “digali dari khasanah bumi nusantara” dan diterima sebagai dasar negara merdeka yang akan dibentuk itu.

Kedua, perayaan “hari Pancasila” itu justru dilakukan oleh masyarakat sipil, tanpa sedikit pun campur tangan birokrasi negara. Padahal sekitar 700 orang dari berbagai daerah nusantara, dari mereka yang berusia lanjut sampai balita, menghadiri dan memeriahkannya. Ini sungguh fenomena menarik yang, saya yakin, akan punya dampak mendasar. Justru ketika birokrasi negara, para pejabat, politisi dan intelektual merasa enggan, atau malah risi, membicarakan lagi Pancasila, dan bahkan cenderung menafikan diskursus tersebut, kini masyarakat akar rumput mengambil inisiatif, merebut pemaknaan, dan mendaku-kembali Pancasila sebagai sesuatu yang fundamental bagi hidup mereka. Apa yang sesungguhnya sedang terjadi?

Kebingungan saya mendapat jawaban dari fenomena ketiga: perayaan “hari Pancasila” sesungguhnya merupakan deklarasi perjuangan kelompok-kelompok penghayat kepercayaan untuk menuntut hak-hak sipil mereka yang selama ini diabaikan. Di situ Pancasila bukan sekadar basa-basi pidato, tetapi menyentuh pertaruhan ultim yang menyangkut eksistensi mereka, Untuk memahami soal ini, kita harus mendedah agak jauh ke belakang—betapapun singkatnya.

Dalam kajiannya yang sudah klasik, Niels Mulder pernah memperlihatkan bahwa baru pada tahun 1961 Departemen Agama berhasil merumuskan definisi minimum tentang “agama” yang menjadi definisi resmi sampai sekarang, setelah upaya sebelumnya (1952) kandas di tengah jalan. Ada latar belakang politis yang kuat di balik perumusan tersebut yang harus ditelisik dengan teliti.

Mulder mengingatkan, kebijakan tersebut dilatari oleh suburnya kelompok-kelompok kebatinan pada masa itu. Depag, misalnya, pernah melaporkan bahwa pada tahun 1953 ada lebih dari 360 kelompok kebatinan di seluruh Jawa. Kelompok-kelompok ini ditengarai Mulder telah memainkan peran menentukan, sehingga pada Pemilu 1955 partai-partai Islam gagal memperoleh suara mayoritas, hanya mendapat 42 persen suara. Pada tahun yang sama BKKI (Badan Kongres Kebatinan seluruh Indonesia) didirikan di bawah kepemimpinan Mr. Wongsonegoro. Lalu tahun 1957, BKKI mendesak Soekarno agar mengakui secara formal bahwa “kebatinan” setara dengan “agama”.

Tidak heran jika konstelasi politik ini mendorong Depag pada tahun 1961 mengajukan definisi “agama”. Suatu “agama”, menurut definisi itu, harus memuat unsur-unsur penting: kepercayaan pada Tuhan Yang Mahaesa, ada nabi, kitab suci, umat, dan suatu sistem hukum bagi penganutnya. Tentu saja, dengan definisi seperti itu, banyak kelompok kepercayaan, kebatinan, atau kelompok-kelompok masyarakat yang masih mempertahankan adat istiadat dan praktik-praktik religi lokal, seperti animisme, dinamisme, dstnya tidak tercakup di dalamnya, sehingga mereka digolongkan sebagai orang yang “belum beragama”. Atau, seperti diperlihatkan Atkinson, istilah itu berarti juga “belum memeluk agama yang diakui negara”!

Boleh dibilang sejak saat itu kelompok-kelompok penghayat kepercayaan dipinggirkan, bahkan ditolak keberadaannya. Hak-hak sipil mereka dinafikan, mulai dari kartu identitas, pernikahan, sekolah, dan lainnya. Sementara apa yang disebut “kepercayaan”, bagi penguasa negara ini, hanya masuk dalam kategori Departemen Pariwisata dan Film—jadi semacam tontonan bagi para wisatawan asing. Dan sebagai kelompok yang “belum beragama” itu, sudah tentu, mereka sah-sah saja menjadi sasaran penyebaran agama resmi untuk mencari tambahan pengikut.

Satu-satunya jaminan keberadaan kelompok-kelompok ini adalah Pancasila—walau rezim Soeharto telah menodainya. Karena pada rumusan Pancasila yang menghormati kebhinekaan, tetapi sekaligus menjaga persatuan, setiap kelompok diterima dan dihargai, tenggang rasa dicari, dan sikap moderasi diunggulkan. Soalnya adalah mencari celah yang melalui mana tuntutan mendasar itu dapat timbul ke permukaan.

Reformasi 1998, dengan tuntutan “politik kesetaraan” yang menafasinya, memberi celah itu. Terobosan UU Administrasi Kependudukan No 23/2006 memberi kemungkinan bagi para penghayat kepercayaan untuk “mengosongkan kolom agama” baik di KTP, Kartu Keluarga, maupun Surat Keterangan Kependudukan. UU itu juga, perlu dicatat, merupakan dokumen resmi pemerintah pertama yang memakai istilah “mereka yang agamanya belum diakui”—sebuah istilah yang selama ini dihindari pemerintah.

Maka terobosan UU 23/2006 tersebut kini menjadi senjata yang ampuh. Kelompok-kelompok penghayat kepecayaan di berbagai daerah berbeda ramai-ramai meminta agar kolom agama di KTP mereka dikosongkan saja. Berulang kali, di kaki Gunung Slamet, saya mendengar kesaksian orang-orang yang dengan gigih memperjuangkan hak-hak mereka itu, walau harus menghadapi tantangan yang tidak mudah. Tetapi saya sadar, celah terbuka itu menjadi kesempatan bagi para penghayat kepercayaan untuk meneguhkan identitas mereka, dan akan mengubah peta keberagamaan di negeri ini pada masa mendatang.

Ada cerita menarik soal itu. Seorang penghayat bercerita bagaimana dia meminta agar kolom agama di KTP-nya dikosongkan saja. Padahal, dulu, di kolom itu tercantum agama “Islam”. Petugas yang dihadapinya bingung. “Bapak pindah agama?” tanyanya.
“Bukan,” jawab dia. “Saya kembali kepada kepercayaan leluhur saya…”

Dengan kalimat itu, ia sedang menegaskan haknya untuk berdiri sama tinggi di negeri ini. Dan di kaki Gunung Slamet, diskursus Pancasila kembali hidup, sebagai pertaruhan ultim hak-hak anak bangsa.

Oleh: artacuakep | Juli 7, 2009

SOEKARNO PELOPOR ISLAM LIBERAL

Sayang, ungkap Soekarno, keberpihakan Kristen dan Islam kepada perempuan tidak lagi tampak dalam realitas kehidupan umat Kristen dan Islam. Ada jarak antara yang ideal dan faktual dalam pelbagai kehidupan dan pemikiran umat Islam. Dengan latar pemikran semacam itulah acapkali Soekarno menyebut Islam saat ini sebagai “Islam Sontoloyo” atau “Masyarakat Onta.”

Ada banyak kalangan yang memandang bahwa rumusan Dasar Negara yang disusun oleh Soekarno bukan hanya renungan mengenai Indonesia, melainkan juga refleksi atas perkembangan politik masyarakat dunia. Pancasila memuat klaim terhadap ide-ide besar pemikiran politik terbaru saat itu. Dia tidak hanya merespon gerakan kemerdekaan negara-negara jajahan kolonial, melainkan juga mengamati secara lebih dekat keruntuhan rezim kekaisaran Turki Utsmani, yang selama bertahun-tahun diaku sebagai simbol kedaulatan politik Islam.

Dengan demikian, pilihan politik Soekarno mendirikan Indonesia dengan dasar kebhinekaan bukan sekadar buah dari pemikiran “Barat,” melainkan juga respon mutakhir terhadap kegagalan politik rezim Islamis di dunia Islam. Kesadaran semacam itu tertuang dalam pelbagai tulisan Soekarno semisal Apa Sebab Turki Memisahkan Agama dari Negara, Memudahkan Pengertian Islam, Masyarakat Onta dan Masyarakat Kapal Udara, Islam Sontoloyo, dan seterusnya.

Diskusi Jaringan Islam Liberal, 28 Mei 2009, mengulas ajaran Soekarno mengenai Islam liberal. Panitia menghadirkan Prof. M. Dawam Rahardjo dan Dr. Yudi Latif sebagai pembicara. Diskusi yang dipandu oleh Novriantoni Kahar, MA itu berlangsung selama dua jam dan dihadiri oleh sekitar 100 peserta.

M. Dawam Rahardjo yang tampil sebagai pembicara pertama mengulas sejarah pemikiran Soekarno, khususnya mengenai persentuhan Soekarno dengan Islam. Sebetulnya, Soekarno dilahirkan tidak dalam tradisi santri, melainkan abangan. Ibunya bahkan berasal dari Bali dan beragama Hindu. Persentuhan Soekarno dengan Islam langsung pada level high Islam yang rasional filosofis, tidak dengan low Islam, yakni pendidikan Islam tradisional. Soekarno bersentuhan dengan Islam langsung pada tradisi pemikiran, bukan pada tradisi ritual.

Yudi Latif menambahkan bahwa latar belakang keluarga ini membuat Soekarno berdiri tidak di satu tradisi. Ayahnya, Sukemi, adalah seorang petani Jawa. Sementara ibunya, I Gusti Nyoman Ray, adalah seorang Hindu Bali. Latar belakang keluarga ini sangat berpengaruh dalam pembentukan watak pemikiran Soekarno yang eklektif.
***

Pembuangannya ke Endeh (1934) menjadi momentum Soekarno belajar Islam secara serius. Ia membaca buku-buku mengenai pemikiran Islam yang dikirim oleh kolega-koleganya, seperti A. Hassan. Cokroaminoto membawa Soekarno berkenalan dengan pemikiran Islam dari Muslim Ahmadiyah. Persentuhan Soekarno dengan Islam menjadi semakin mengarah ke ranah pemikiran setelah Soekarno membaca karya-karya Muslim Ahmadiyah tersebut. Ia membaca tulisan-tulisan Mohammad Ali, pendiri Ahmadiyah Lahore. Muhammad Ali menulis antara lain, The Holy Quran (terjemahan Alqur’an dalam bahasa Inggris), The Religion of Islam, Sejarah Muhammad, dan lain-lain. Sementara melalui Syaid Amer Ali, Soekarno membaca The Spirit of Islam yang kelak menjadi dasar bagi pemikirannya mengenai Api Islam.

Dalam ajaran Ahmadiyah dikenal doktrin mengenai kebutuhan membangun khilafah ruhaniyyah (spritualitas), bukan khilafah duniawiyyah (politik). Istilah “Api Islam” sangat kental terpengaruh dari doktrin ini. Soekarno menyaksikan betapa masyarakat Muslim dunia begitu beragam. Semuanya butuh kesatuan ummah dalam pengertian ruhani. Dari sini Soekarno menegaskan dukungannya kepada model Islam Turki modern.

Ketika banyak pihak mengusulkan Islam sebagai dasar negara, Soekarno memberi respon dengan mengajukan keberhasilan Mustafa Kemal Attaturk membangun Turki modern. Ia bersetuju dengan buku karangan Ali Abdul Raziq, al-Islam wa Ushul al-Hukm, yang menyatakan bahwa risalah Nabi Muhammad tidak mengandung petunjuk eksplisit mengenai pilihan ideologi politik yang harus dianut oleh umat Islam. Ia menyatakan bahwa pilihan Attaturk memisahkan agama dari negara bukan hanya tidak melanggar syariat Islam, melainkan juga adalah respon cerdas terhadap kemunduran dunia Islam saat itu. Di banyak tulisan lain, Soekarno mengurai sederet kemunduran itu.

Pandangan bahwa Soekarno lebih mengapresiasi corak keberislaman di Turki dibantah secara serius oleh Yudi Latif. Menurut Yudi, Soekarno justru lebih mengapresiasi Islam Mesir ketimbang Turki. Turki, menurut Yudi, telah begitu ceroboh melakukan privatisasi agama, yakni membuang agama ke langit ketujuh. Sementara yang diinginkan Soekarno bukanlah pemisahan agama dari negara melainkan bagaimana memperbaharuinya.

Kesimpulan Yudi Latif cukup terkonfirmasi dalam pelbagai bentuk keprihatinan Soekarno pada kemunduran Islam. Pelbagai kemunduran itu, oleh Soekarno, dinilai sebagai fakta sosial, bukan kondisi yang diidealkan oleh ajaran Islam sendiri. Ketika membahas mengenai ketidaksetaraan gender dalam kehidupan umat Islam, Soekarno menilai hal itu melenceng dari cita-cita ajaran Islam. Baik Islam maupun Kristen, menurut Soekarno dalam buku Sarinah, datang dengan semangat mengoreksi budaya patriarki. Hal ini bisa dibuktikan dalam fakta bahwa kaum perempuanlah yang mula-mula menyambut baik ajaran Islam dan Kristen.

Kondisi ketertindasan perempuan dalam budaya patriarki membuat mereka berbondong-bondong memeluk Islam dan Kristen. Itulah sebabnya, dalam sejarah penyebaran Kristen, banyak sekali tokoh perempuan yang harus mati di tiang gantungan, dibakar, atau disalib karena menganut dan menyebarkan ajaran ini. Demikian pula dengan Islam. Islam berkembang pesat di Nusantara, misalnya, karena para perempuan penganut Hindu lebih memilih Islam yang egaliter. Mereka menghindar dari kewajiban dibakar hidup-hidup mengikuti suami yang meninggal dunia dengan menganut ajaran Islam. Justru karena dianut oleh para perempuan, maka kedua agama ini berkembang dengan sangat pesat.

Sayang, ungkap Soekarno, keberpihakan Kristen dan Islam kepada perempuan tidak lagi tampak dalam realitas kehidupan umat Kristen dan Islam. Ada jarak antara yang ideal dan faktual dalam pelbagai kehidupan dan pemikiran umat Islam. Dengan latar pemikran semacam itulah acapkali Soekarno menyebut Islam saat ini sebagai “Islam Sontoloyo” atau “Masyarakat Onta.”
***

Perkenalan Soekarno dengan tradisi pemikiran Islam, menurut Dawam, ditunjang oleh khazanah ilmu sosial yang telah pula ia serap dari Barat. Pandangan sosiologisnya dipengaruhi oleh materialisme historis Karl Marx, yang menjadi sangat kentara dalam buku Sarinah. Sementara pandangan agamanya dipengaruhi oleh Auguste Comte.

Kombinasi pelbagai tradisi keilmuan ini membawa Soekarno pada dua pendirian mengenai Islam: liberal dan progresif. Pada ranah liberalisme, Soekarno menekankan tentang pentingnya wacana pembebasan dalam Islam. Ia menulis Memudakan Pengertian Islam di Panji Islam (1949). Tulisan ini merefleksikan penguasaan Soekarno mengenai Islam dalam hal gejala sosialnya. Soekarno mempelajari aneka corak keislaman di pelbagai wilayah: Mesir, Palestina, India, Turki, Arab Saudi, dan lain-lain. Dari situ kemudian Soekarno mengambil kesimpulan bahwa apa yang disebut sebagai Islam bukanlah entitas tunggal, melainkan beragam. Gejala pluralisme, menurut Soekarno, ada dalam Islam, baik untuk kalangan eksternal, maupun internal.

Soekarno juga memandang bahwa Islam adalah ide progresif (idea of progress). Di sini, Soekarno menyimpulkan bahwa Islam yang tampak mundur dan tertatih-tatih untuk bangkit itu bukanlah sejatinya Islam. Kemunduran Islam, bagi Soerkarno, terutama disebabkan keengganan sarjana-sarjana Muslim menggunakan perspektif pengetahuan modern (modern science) dalam pemikiran Islam. Ia mengusulkan kepada pesantren-pesantren untuk mengajarkan ilmu pengetahuan dalam tradisi Barat, di samping tradisi keilmuan Islam.

Oleh: artacuakep | Juli 7, 2009

TENTANG REMAJA

###PERKEMBANGAN DAN MASALAH KOGNITIF REMAJA###

Apabila memasuki lingkungan umur sebelas tahun, piaget menyatakan perkembangan kognitif manusia masuk tahap yang akhir, iaitu operasi formal. Kanak-kanak yang memasuki tahap ini berupaya berfikir dengan logik serta memahami konsep-konsep yang abstrak.
MALAM YG INDAH
Tahap kognitif ini membolehkan para remaja berfikir tentang fikiran itu sendiri, mempelajari tatabahasa yang kompleks,konsep matematik seperti algebra dan mengendalikan tugas mental dengan menggunakan konsep serta fikiran yang kompleks.

Satu lagi perubahan kognitif remaja yang agak ketara ialah pemikiran egosentrisme remaja ( adolescence egocentrism) yang disarankan oleh Elkind,(1967). Remaja sering mengubahsuaikan persepsi tentang kebenaran alam.

Mereka sering merasai yang perhatian umum sentiasa tertumpu kepada diri,tingkahlaku, perbuatan dan sifat mereka.

Elkind mengatakan bahawa para remaja sering mengada-adakan bayangan sekelompok manusia yang akan mengkritik segala tingkah lakunya sedangkan ini hanyalah bayangan pesepsi mereka yang dikuasai oleh egosentrisme remaja.

###PERKEMBANGAN EMOSI SOSIAL###

Perhubungan mereka dengan ibu bapa, keluarga, kawan-kawan sebaya dan hubungan percintaan amatlah rumit kerana pada masa ini, para remaja mengalami satu proses kesedaran kendiri.

Mereka sering memikirkan tentang pandangan dan pendapat orang lain tentang dirinya sendiri dan mereka sering bertukar pendirian, pendapat, ideologi dan kawan-kawan.

Erikson menyatakan bahawa remaja mengalami konflik sosial diantara pengertian identiti diri dengan kekeliruan peranan yang ada padanya. Remaja akan bertanyakan ‘siapakah saya’, ‘apakah tujuan hidup ini’ dan ‘kemanakah arah sendiri’.

Dalam mencari identiti, remaja mempunyai keinginan untuk bebas daripada kongkongan ibu bapa, untuk berdikari dan untuk membuat apa-apa yang disukainya tetapi dalam masa yang sama memerlukan bimbingan terutamanya dari segi kewangan dan tempat tinggal.

Apa yang ketara sekali para remaja cenderung untuk berpisah dengan ibu bapa mereka kerana mengaggap kawan-kawan sebayanya adalah lebih penting. Kawan-kawanlah tempat mereka berkongsi pandangan serta bertukar-tukar fikiran serta pendapat. Disamping itu hubungan percintaan juga amat penting bagi remaja.

Segala apa yang dilakukan oleh rakan-rakan mereka adalah betul dan apa yang penting di sini ialah proses identifikasi kepada norma-norma kumpulan kerana identity kumpulan adalah identiti mereka.

###ISU-ISU BERKAITAN DENGAN REMAJA###

Pada masa ini kita dapati ramai anak-anak remaja yang menghabiskan masa dengan kegiatan yang tidak berfaedah, iaitu berkumpul di pusat-pusat hiburan, menghisap rokok, bersiar-siar di Bandar dan sebagainya. Sesetengahnya ada yang terlibat dengan penyalah gunaan dadah, mencuri, memasuki kumpulan haram dan kegiatan perlacuran.

Terdapat juga remaja yang terlalu taksub dengan dunia percintaan. Dalam hal ini mereka selalu menyamakan di antara persahabatan dengan percintaan dan seterusnya percintaan dengan seks. Ramai di antara mereka terlibat dalam perbuatan-perbuatan yang sumbang dan bersalahan di sisi agama.

Ada juga yang menganggap jika terlalu tumpu pada pelajaran, mereka tidak berkesempatan bergaul mesra dengan rakan-rakan sebaya mereka. Hal ini menyebabkan mereka tercicir di dalam pelajaran mereka.

###MASALAH REMAJA LARI DARI RUMAH###

Masalah remaja lari daripada rumah bukanlah sesuatu yang baru. Pelbagai usaha telah dilakukan demi membendung gejala ini dari berleluasa. Kebanyakkan remaja yang lari dari rumah mengikut kajian Polis Bukit Aman (November 1992/1993) ialah berumur di antara 14- 18 tahun.
AKU MERASA SENDIRI
Faktor-faktor yang menyebabkan anak-anak remaja lari dari rumah:

1) terasa malu dengan keluarga kerana sesuatu kegagalan.
2) Krisis dengan keluarga. Sesetengah keluarga ingin mengawal pergerakan dan pergaulan anak-anak.
3) Tidak dapat kasih sayang yang sepenuhnya daripada ibu bapa sewaktu kecil.
4) Remaja mengalami tekanan jiwa kerana gagal memenuhi kehendak ibu bapa terhadap pencapaian pelajaran.
5) Rosak akhlak dan pernah menjadi mengsa rogol.
6) Degil dan tidak mendengar nasihat yang berguna daripada ibu bapa. Oleh itu ramai yang merajuk dan membawa diri.
7) Kemiskinan keluarga menyebabkan ramai yang mencari peluang pekerjaan di Bandar.
8) Terpengaruh dengan pujuk rayu teman.
9) Ditipu dengan ejen sosial yang berpura-pura untuk mendapatkan pekerjaan.
10) Sengaja ingin mendapatkan keseronokan dan kebebasan kehidupan di Bandar.

Bagaimanapun terdapat juga para remaja yang pandai menjaga diri dan sanggup bekerja setimpal dengan kelulusan mereka. Ibu bapa perlu memainkan peranan penting bagi mencegah berlakunya masalah ini dari berleluasa.

###CARA-CARA MELAYANI DAN MENGATASI PERGOLAKAN JIWA REMAJA###

Ibu bapa bertangungjawab untuk memberi pendidikan agama yang secukupnya kepada anak-anak remaja.

Ibu bapa perlu peka dengan permasalahan konflik jiwa remaja dan sering menaihati mereka.

Ibu bapa dan guru perlu mengelakkan pilih kasih semasa membimbing remaja.

Anak remaja yang di alam percintaan ibu bapa bertanggungjawab menyelidiki pasangannya itu.
Ibu bapa perlu memahami ilmu tentang jiwa remaja

Jangan meletakkan harapan yang tinggi kepad anak remaja tetapi sentiasa memberi dorongan dan semangat dengan kebolehan yang sesuai dengan mental mereka.

Wujudkan komunikasi yang baik antara ibu bapa dan remaja itu sendiri agar tiada jurang. Berikan peluang kepada remaja untuk melontarkan idea mereka.

###SEKSUALITI REMAJA###

Pertumbuhan intelelektual, moral serta spiritual biasanya diiringi dengan kemunculan seksualiti mereka. Sarrel dan Sarrel (1979) menamakan konsep ini sebagai sexual unfolding. Remaja membentuk identifikasi seksual dan meningkatkan keupayaan terhadap kematangan emosi dan seksual:
NINGGIK LAGI MAN
1) Perubahan peringkat pada tubuh badan
2) Kemampuan untuk mengatasi atau mengubah perasan bersalah, kebimbangan zaman kanak-kanak terhadap pemikiran dan tingkah laku sosial.
3) Peleraian satu iktan emosi yang utama dengan ibu bapa atau penjaga
4) Belajar mengenai keseronokan erotik atau rasa berahi dan ketidakselesaannya serta mampu membincangkan soal ini dengan teman-teman.
5) Penyelesaian konflik dan kekeliruan mengenai orientasi seksual.
6) Peningkatan sebagai seorang yang berkemampuan seksual dan kedudukan seks dalam kehidupan.
7) Ke arah tanggungjawab terhadap pasangan ,diri, dan masyarakat
8) Peningkatan keupayaan dalam bentuk kasih sayang.

###HUBUNGAN SEKS LUAR NIKAH###

Pengalaman pertama remaja biasanya dipenuhi dengan perasaan cemas, takut dan kerisauan. Hal ini kadang-kadang terbawa sehingga ke peringkat pertengahan dan akhir remaja.

Dalam kajian tahun 1980 Zelnick dan Kantner melaporkan bahawa lebih daripada 50% remaja Amerika syarikat pernah melakukan hubungan seks.
Secara puratanya di sekitar usia 16 tahun. Tidak menjadi sesuatu yang luar biasa untuk mendapati remaja berusia 13 dan 14 tahun aktif secara seksual dalam melakukan hubungan kelamin.
ereksi2
Satu perkara yang tidak dapat dielakkan apabila remaja menggunakan kegiatan seksual sebagai cara untuk menarik perhatian masyarakat atau ibu bapa.

Penyakit pindahan seksual juga dikenali dengan nama panggilan singkatan STD . Amerika, gonorea lebih biasa dihadapi oleh golongan remaja belasan tahun daripada kelompok kelas pertengahan. Siflis pula ebih ketara di kalangan remaja daripada kelompok rendah.
Usia jangkitan paling tinggi ialah kepada mereka yang berusia antara 15-24 tahun.

###BEBERAPA MASALAH BERKAITAN REMAJA###

Para remaja dikatakan menghadapi masalah menerima bentuk tubuhnya yang baru. Disamping masalah psikologikal ini, para remaja juga menghadapi masalah-masalah yang berbentuk fisiologikal yang perlu mereka atasi sendiri.

Bagi remaja wanita, haid adalah sesuatu proses yang normal tetapi seringkali menyebabkan ketidakselesaan pada mereka. Kadangkala ia berlaku dengan diiringi oleh perasaan seperti kemurungan, keletihan, kelesuan dan kemarahan.

Satu lagi masalah yang dihadapi oleh remaja ialah masalah berat badan. Masalah ini terjadi dalam dua bentuk, pertama ialah keadaan badan yang gemuk dan kedua, keadaan badan yang terlalu kurus. Bagi remaja yang tidak dapat mengawal kehendak makanan, mereka akan menghadapi masalah Bulimia.

Beberapa masalah kecil sentiasa menjadi tumpuan kepada remaja. Ketumbuhan jerawat sering berlaku di zaman remaja dan mereka amat sensitif akan perkara ini. Jerawat merupakan sesuatu yang menghodohkan rupa mereka dan perkara ini sering di perbesar-besarkan.

###BENTUK KONFLIK REMAJA###

Konflik di antara remaja dan ibu bapa wujud dalam pelbagai bentuk. Konflik ini boleh dalam bentuk konflik peribadi, sosial, aktiviti di rumah atau di sekolah, disiplin dan sebagainya. Dalam membincangkan konflik remaja dengan ibu bapa ini, sering bertindan lapis dengan istilah jurang generasi (generation gap). Sebenarnya istilah ini merujuk kepada konflik remaja dengan ibu bapa kerana ibu bapa sebagai generasi yang lebih tua seolah-olah tidak dapat menerima kenyataan bahawa generasi muda merupakan golongan yang akan memasuki tahap dewasa. Akibat penolakan hakikat yang sebenarnya maka timbullah jurang generasi atau konflik antara remaja dengan ibu bapa. Antara konflik remaja dengan ibu bapa ialah konflik kasih sayang, konflik kebebasan, konflik own rights dan other right, dan konflik rakan sebaya.

Older Posts »

Kategori