Oleh: artacuakep | April 15, 2009

G-20 dan KAPITALISME BARU

PERTEMUAN pemimpin 20 negara , penguasa 85 persen perekonomian dunia , di London minggu ini sangat krusial bagi masa depan pranata sosial ekonomi dunia baru . Intensitas resesi yang melanda sekarang ini bakal menjadi katalis dominan arah dan substansi meteri pertemuan kali ini .

Dalam pertemuan ini , pemimpin G-20 akan dihadapkan dalam sejumlah permasalahan mendasar yang membutuhkan pemikiran dan keputusan bernas . Perbedaan cara pandang AS dan Eropa terhadap penyelesaian krisis ekonomi ini , reformasi IMF , dan bank dunia memberi peranan lebih besar kepada sejumlah negara kaya Asia dan layakkah pranata kapitasime ini dipertahankan merupakan tiga meteri utama yang bakal mendominasi diskusi .

Pada dasarnya , semua pihak sepakat harus segera menemukan jalan penyelesaiannya tercepat , terpendek , dan paling murah dari belitas resesi ini . Tetapi , ironisnya , ketika sampai pada tahap aksi dan koordinasi tindakan , para pemimpin itu jugalah yang justru memperlihatkan betapa tidak mudanya memadukan kepentingan .

AS yang menjadi episentrum sumber prahara resesi saat ini masik percaya dengan resep model Keynessian . Yakni pemerintahan bertindak aktif menggerakkan ekonomi ketika masyarakat ( pribadi dan masyarakat ) tidak berdaya . Dalam model itu , stimulus dan kebijakan moneter selalu menjadi andalan dengan asumsi utama mempertahankan aktifitas perekonomian secara bertahap mengembalikan kepercayaan pelaku ekonomi .

Presiden AS Barack Obama tidak sendiri dalam gerbong ini , sejumlah pemimpin mendukung , bahkan menerapkan rese yang sama , meskipun dengan sejumlah improvisasi dalam pelaksanaannya . Inggris , Australia , Tiongkok , dan Indonesia merupakan sebagian negara yang ikut gerbong itu – Inggris dan Australia bahkan siap menjadi pelobi model AS tersebut .

Sementara negara – negara Eropa daratan lebih memilih perlunya regulasi yang lebih ketat dan jelas atas fungsi dan mekanisme sistem keuangan dunia . Mereka yakin , krisis sekarang bersumber dari kelemahan faktor itu yang membuat lebirin Wall St semakin menggurita tidak terkendali .

Argumen tersebut berdasarkan pada fakta bahwa pemicu utama resesi ini adalah tindakan berlebihan yang tidak terkontrol hedge fund dalam transaksi derivatif , yang pada akhrinya hanya berdampak pada pelaku pasar dan bisnis , melainkan juga berimplikasi kepada ekonomi riil .

SOVEREIGN WEALTH FUND , krisis dunia kali ini membuka pintu terhadap fakta yang selama ini diterima sebagai tatanan wajar bahwa negara – negara Barat sangat kaya dan selalu menjadi sumber dana dunia . Persepsi demikian itu diperkuat dengan konstelasi sistem representasi yang masik berlaku hingga sekarang dalam 2 lembaga utama keuangan , IMF dan Bank Dunia . AS dan G-7 yang difisit sangat mendominasi hak voting , sementara negara – negara kaya tidak terwakilih secara proporsional ( Tiongkok 1,5perse suara dan Indonesia 0,5 persen suara ) .

Padahal , dua negara terkaya dengan cadangan divisa riil terbesar sekarang ini adalah Abu Dhabi dan 6 negara lain dalam Unit Emirat Arab hampir dua kali lipat Tiongkok . Belum lagi negara – negara kaya minyak seperti Arab Saudi , Kuwait , dan Brunei .

Dunia baru tersadar akan kekuatan ekonomi negara – negara Asia kaya baru itu setelah belanja aset murah dalam jumlah luar biasa . Abu Dhabi lebih mengonsentrasikan investasinya pada sektor keuangan dan investasi dengan membeli saham sejumlah bank dan asuransi di AS dan Eropa . Akhir tahun kemarin Abu Dhabi merupakan pemegang saham terbesar di Eropa Barclay Bank .
Sedangkan Tiongkok menggunakan dananya untuk mengamankan pasokan bahan baku dan energi untuk industri mereka . Tiongkok menyiapkan miliar dolar untuk membeli saham perusahan tambang di Asutralia , termasuk 19 % saham perusahan terbesar ketiga didunia Rio Tinto . Tiongkok juga mengamankan cadangan energi dengan investasi di Rusia Balkan , dan Brazil hampir USD 200 miliar .

Yang membuat terbelak Wall st dan pasar keuangan dunia adalah fakta ternyata Tiongkok – yang kebingungan memarkirkan uangnya – merupakan lembaga tunggal pemegang TREASURY BILL terbesar .

Fakta – fakta itu yang mendasari perlunya reformasi di IMF dan bank dunia karena negara – negara itu bakal meminjamkan uangnya kalau tidak bisa mengendalikannya keutusan ata penggunanan dananya .

MATINYA PASAR BEBAS
Besarnya momentu krisis ekonomi kali ini sangat luas biasa hampir tidak ada negara yang bakal selamat dari terpaannya . Ibarat tsunami , momentumnya bergerak melebar dari episentrum di AS keseluruh dunia secara beruntung dan terkait satu sama lain .

Hal itu tak dapat dihindari karena efek globalisasi dan saling keerkaitan dalam pasar bebas bahwa barang , jasa dan dana mengalir muda tanpa hambatan geografi batas – batas negara yang konvensional . Implikasinya ketika AS sebagi pasar terbesr didunia terkenak aliran resesi aliran pasar bebas menjadi tersendat , bahkan dalam beberapa sektor berhenti mendadak .

Kondisi itulah yang memicu kembalinya pemikiran nasionalisme ekonomi . bahkan , ide itu kian mengkristal menjadi wacana utama diEropa bahwa para demostran menuntu agar unsur ekonomi yang berbauh luar negeri ditempatkan pada prioritas terakhir . Bukan hanya produk asing , pekerja imigran juga ditentang .

Sejara membuktikan , krisis ekonomi selalu membawah serta berdebatan pranata sosial ekonomi . Ketika depresi 1930 -an , pranata kapitalisme juga dipertanyakan sehingga lahir the FED untuk mengatur pasar uang , dan SEC untuk pasar modal AS . Untuk meredam kemarahan rakyat atas keserakahan kapitalisme , negara – negara maju mulai menerapkan cikal bakal welfare state .

Sejarah terulang lagi kali ini . Hanya , para kapitalisme yang menjadi sasaran bukan lagi kaum borjuis individual dalam konotasi Marx , tetapi lebih impersonal dalam bentuk lembaga keuangan / investasi .

Tetapi , pola dasar pertentangannya tidak berubah dimana kaum proletar ( karyawan yang kehilangan pekerjaan ) marah terhadap borjuis ( eksekutif yang serakah ) . Bahkan , dalam kasus AIG , Obama sangat Marxian dan ikut mengutuki eksekutif yang mengantongi bonus , meskipun perusahaannya harus di talangi dana dari pajak rakyat agar tidak bangkrut .

Meminjam teori marx , tarik ulur kepentingan memang tidak bisa dihindari . Setiap tesa pasti akan memancing antitesa sebelum sintesa baru akhirnya muncul dan menjadi pranata sosial ekonomi yang disepakati norma bersama . Bagaimana bentuknya , itulah menjadi tugas para pemimpin di London minggu ini .


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: