Oleh: artacuakep | Juli 4, 2009

Pesta Sex, Fenomena Kota Metropolitan

Tampaknya perkembangan sebuah kota selalu di barengi dengan perubahan arah dan jati diri individu. Perilaku seseorang akan sangat dipengaruhi oleh kehidupan sehari-harinya. Demikian pula dengan kehidupan sexnya. Kota yang dahulunya begitu menyanjung pernikahan kini menjadi kota tanpa batas dan menjadikannya sex metropolitan.

dewa cintaKehidupan sex bebas di kota-kota besar menjadi perhatian khusus beberapa orang. Maka terbentuklah event organizer yang khusus menangani masalah sex. Mulai dari ajang pencarian pasangan sampai mengadakan acara pesta sex atau sering juga disebut sex party.

Pesta sex kebanyakan di lakukan di hotel-hotel berbintang atau di rumah-rumah khusus dengan penjagaan yang sangat ketat. Bagi beberapa orang yang tidak memiliki dana, pesta sex kadang terjadi begitu saja. Ketika pikiran telah terhipnotis dengan aneka minuman dan shabu-shabu, biasanya akal sehat menjadi mati dan apa saja yang bisa membuat diri senang pun dilaksanakan termasuk berhubungan sex ramai-ramai.

Pagi ini Agus terlihat begitu ceria. Sejak tadi dia bersiul-siul dan bernyanyi ringan di ruang kerjanya. Bagi Dedi, teman seruangan Agus, itu pertanda bahwa Agus baru saja mendapat pacar baru. Barangkali yang tidak diketahui Dedi, Agus ternyata baru saja menerima sms dari temannya untuk bergabung di acara Pesta Sex nanti malam.

Pesta sex atau sex party bukan kali ini saja dilakukan oleh Agus. Kegiatan sex yang tidak normal bagi sebagian orang itu telah dilakoninya sejak 3 tahun lalu ketika dia masih berpacaran dengan Susi. Dari Susilah Agus mengenal kehidupan gelap dari sex.

Di kota-kota besar, kisah hidup seperti Agus dan Susi bukan lagi menjadi cerita yang aneh. Di kalangan tertentu pesta sex adalah simbol identitas dan kekuasaan seseorang.

Pesta sex biasanya di lakukan dengan perantara seorang koordinator acara. Sang kordinator ini bertugas menyiapkan segala tetek bengek acara mulai dari tempat, peserta sampai dengan keamanan acara. Biaya nya juga tidak main-main, sampai ratusan juta rupiah.

Di kalangan tertentu, pesta sex biasanya dimulai dengan acara pesta shabu dan minuman keras. Ketika kesadaran telah hilang, saat itu biasanya sex party akan mulai terlaksana tanpa komando. Pesta-pesta semacam ini banyak dilakukan di kota-kota besar di Indonesia.

###Banyak para remaja Metropoitan kecanduan sex , adapun ciri – cirinya sebagai berikut###

Anto suka sekali mengajak teman chattingnya menggunakan kata-kata yang menjurus ke arah pornografi. Kata yang digunakannya juga sangat tidak sopan, sehingga banyak teman chattingnya jijik kalau Anto sudah kurang ajar seperti itu. Mengapa Anto bersikap begitu, apakah ia pecandu seks?
man for you
Bisa jadi, karena sering mengemukakan sesuatu yang terkait dengan masalah seksual bisa juga dianggap kecanduan seks. Tetapi saat ini kami mencoba menampilkan cara sederhana untuk menilai apakah seseorang mengidap kecanduan seks. Dua belas pertanyaan berikut mungkin merupakan alat bantu yang berguna untuk Anda menemukannya .

01. Apakah Anda menyimpan rahasia mengenai kegiatan seksual Anda dari orang-orang yang penting dalam hidup Anda ? Apakah Anda menjalani dua kehidupan sekaligus?

02. Pernahkah hasrat seksual Anda mendorong Anda untuk melakukan hubungan seks di tempat, situasi ataupun dengan orang yang secara normal tidak akan Anda pilih?

03. Apakah Anda mencari artikel-artikel seks ataupun gambar-gambar telanjang yang merangsang secara seksual di koran, majalah dan media lainnya?

04. Apakah fantasi-fantasi seksual Anda mengganggu hubungan Anda atau menjadi tempat pelarian Anda dari masalah?

05. Apakah Anda senantiasa ingin menjauh dari pasangan setelah berhubungan seks? Apakah Anda sering merasa menyesal, malu, atau bersalah setelah mengalami suatu pengalaman seksual?

06. Apakah Anda merasa malu dengan seksualitas atau tubuh Anda, misalnya Anda menghindari menyentuh tubuh Anda atau melakukan suatu hubungan seks? Apakah Anda khawatir bahwa diri Anda tidak memiliki hasrat seksual dan bahwa Anda adalah seorang yang aseksual?

07. Apakah setiap hubungan baru berlanjut dengan pola merusak yang sama, yang menyebabkan Anda memutuskan suatu hubungan?

08. Apakah Anda membutuhkan frekuensi kegiatan dan variasi seksual yang lebih besar daripada sebelumnya dalam memperoleh pelepasan dan kepuasan?

09. Pernahkah Anda ditahan atau berada dalam ancaman untuk ditahan karena kebiasaan mengintip, bertelanjang di muka umum, pelacuran, berhubungan seks dengan orang yang belum cukup umur, percakapan tidak senonoh di telepon, dan sebagainya?

10. Apakah pola kehidupan seksual Anda mengganggu keyakinan dan perkembangan spiritual Anda?

11. Apakah kegiatan seksual Anda mengandung risiko, ancaman, penyakit, kehamilan, pemaksaan ataupun kekerasan?

12. Pernahkah perilaku seksual Anda meninggalkan perasaan hampa, terasing, dan ingin bunuh diri?

Jika Anda menemukan jawaban ‘ya’ pada lebih dari satu pertanyaan-pertanyaan di atas, Anda disarankan untuk mencari informasi yang lebih lanjut atau berkonsultasi dengan seorang ahli jiwa atau ahli seksologi.

Tidak ada seorang pun yang berhak melarang seseorang untuk bercyber sex. Begitu juga sebaliknya, tidak ada seorang pun yang berhak memaksa seseorang untuk melakukan cyber sex. Selama dilakukan dalam kesadaran, tanpa paksaan orang hebas melakukannya. Sampai sekarang belum ada undang-undang yang mengatur tentang penggunaan cyber sex. Termasuk psikologi, juga belum bisa menentukan apakah cyber sex boleh dilakukan atau tidak. Semua tergantung pada norma masyarakat setempat.

Banyak yang harus diperhatikan jika ingin menilai kelayakan cybersex. “Pertama norma sosial, kedua jumlah populasi penduduk yang memiliki komputer, ketiga kepemilikan komputer yang bisa on line. Keempat jumlah masyarakat yang mengakses internet secara bebas (termasuk mengakses (cyber sex). Bila jumlah pemilik komputer dan pengakses cyber sex melebihi penduduk yang tidak memiliki komputer, termasuk mengakses cybersex berarti keberadaan cyber sex sudah mulai diterima oleh masyarakat,” tutur pengelola Psychological Practice ini.

Mengacu pada populasi dunia, tingkat kesadaran manusia terhadap teknologi sudah mulai tinggi, termasuk cybersex. Jadi, wajar atau tidaknya suatu fenomena sosial tergantung pada kondisi sosial dan populasi. “Secara psikologi pria yang suka mengakses cybersex bukan suatu penyimpangan atau mengalami gangguan jiwa. Cybersex merupakan suatu hal yang wajar. Perlu diketahui penilaian psikologi bukan berdasarkan satu negara tapi dunia,” tambah Kasandra.

Fenomena cybersex hampir sama dengan fenomena homoseksual. Pada tahun 1970-an, homoseksual dianggap sebuah penyimpangan seksual clan bertentangan dengan norma. Sekarang homoseksual dianggap sebagai privatisasi seks, dan wajar dilakukan. Malah sebagian negara mengakui keberadaan kaum pecinta sesama jenis ini.

Belajar pada kasus di atas, untuk kondisi Indonesia sekarang cybersex mungkin suatu yang tidak wajar. Tapi suatu saat, ketika perkembangan komputer dan pengakses internet sudah merata ke seluruh Indonesia cyber sex boleh jadi bisa menjadi suatu yang wajar. Kaum istri tidak akan takut lagi terhadap suaminya yang gila cybersex. Begitu juga pandangan kaum lelaki, cyber sex merupakan satu kewajaran dan kebutuhan biologis yang harus dipenuhi. Pasalnya kebutuhan biologis bisa dipenuhi melalui berbagai cara.
cybersex

Internet telah merevolusi cara berkomunikasi manusia, menembus jarak, ruang dan waktu. Dunia nyata telah diganti oleh dunia maya. Kebeadaan cybersex telah mengubah gaya seks manusia, jauh melampaui sifat alamiah seksual. Sebelum ada internet manusia mengenal seks sebatas hubungan intim nyata, bersentuhan fisik. Setelah ada internet, orang bisa berhubungan intim tanpa harus bersentuhan.

Secara sederhana ada dua jenis cyber sex, pertama dilakukan pasangan resmi, kedua dengan wanita penghibur. Dengan adanya teknologi internet, pelaku bisnis seks tidak perlu lagi menjual wanita nyata cukup secara visual. Untung yang diperoleh pun tak jauh berbeda.

Menurut A. Kasandra Putranto, ada dua faktor yang menyebabkan seorang wanita menjadi penghibur alam maya. Pertama faktor financial. Kekurangan uang membuat orang mudah lupa dengan nilai agama dan sosial. Hal seperti ini bisa terjadi pada siapa saja, termasuk pria. Kedua faktor ekshibisionis. Wanita ekshibisionis adalah wanita yang suka memperlihatkan hal yang tidak wajar pada kepada orang lain. Malah wanita seperti ini mau tidak dibayar, bagi mereka memperlihatkan hal tidak wajar pada orang lain merupakan satu kesenangan.

Tanpa disadari di balik kesenangan ekshibisionis tersimpan nilai buruk yaitu menjatuhkan derajat diri didepan umum. Secara hukum, wanita ekshibisionis mungkin tidak mendapat sanksi, namun secara budaya mendapatkan sanksi sosial yaitu stigma buruk, bahkan hisa dikucilkan dari lingkungan.

Mengacu pada psikologi, pria yang suka cyber sex adalah tipe pria yang suka berpetualang seks. “Ciri pria seperti ini tidak mudah puas, selalu berimajinasi dan tidak puas pada satu titik. Selain suka melihat gambar bergerak, pria penggemar cyber sex juga suka melihat foto-foto porno,” tutur pengamat psikologi ini.

Menurut Kasandra, efek negatif pria cyber sex adalah kecanduan. Para pengguna Internet akan mengalami kecanduan cyber sex melalui beberapa tahap. Pertama kecanduan, pengguna cyber sex awalnya sebatas tertarik terhadap materi-materi pornografi. Lama kelamaan, ingin mendapat lebih banyak materi pornografi lainnya. Kedua eskalasi, seiring dengan waktu, untuk memuaskan kebutuhan seks pecandu cyber sex akan mencari materi seks yang lebih hot.

Akibat dari kecanduan adalah hidup menjadi tidak produktif. Para pecandu cyber sex bisa merasa tidak berdaya untuk meninggalkan perilaku konsumtifnya. Hal ini membuat kehidupan mereka menjadi tidak teratur. Pada tahap lebih fatal, pecandu cybersex lebih senang masturbasi dengan komputer dibandingkan dengan berhubungan seksual nyata. Pada kondisi tertentu ingin merealisasikan seks maya ke dunia nyata.

Selain kecanduan, cyber sex juga bisa berdampak buruk pada kelangsungan rumah tangga. Sebagian istri ada yang tidak suka terhadap suami yang senang cyber sex, karena dianggap pelecehan dan selingkuh. Walau tidak melakukan kontak fisik, tapi terjadi interaksi rasa yang menimbulkan gejolak. Ketika berhubungan seksual dengan istri, yang ada dalam pikiran bukan istri, tapi wanita lain.

Namun pada sebagian perempuan menilai bahwa cybersex merupakan suatu hal yang wajar dan tidak perlu dipermasalahkan. Setiap orang bisa mengakses cyber sex. Pola pikir seperti ini biasanya terjadi pada wanita liberal, dan internet sudah menjadi bagian kehidupan yang tidak bisa dipisahkan. Efek positif atau negatif yang disebabkan oleh internet dianggap suatu yang wajar.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: